This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 30 Oktober 2012

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa


Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Sinar mu memancarkan sebuah cita-cita
Seolah-olah hal yang tidak mungkin pun bisa terwujud
Berkat jasa mu semua orang menjadi cerdas
Berkat jasa mu semua orang menjadi sukses
Cahaya mu akan terus menerangi kegelapan
Seperti lilin yang menerangi kegelapan di perkampungan
Jasa mu bagaikan madu
Memberikan pengajaran kepada semua orang
Yang merasa haus akan ilmu
Harumlah terus nama mu
Pahlawan tanpa tanda jasa

Suri Tauladan


 Suri tauladan
Seruannya yang lembut
Menyentuh dalam sanubari
Tutur katanya yang sopan
Meluluhkan hati
Beliau utusan akhir zaman
Panutan umat
Seorang hero
Bagi kaum muslim
Segala rintangan
Cacian, hinaan
Beliau abaikan
Dan di balas 1000 kebaiakan
Dari kerja keras
Yang tak pernah putus
Islam menyebar
Sampai sekarang
Jasanya bagaikan gading
Yang tetap terkenang
Meskipun secara real
Beliau sudah tiada
Pohon selalu mengucapkan salam
Batu sering berdzikir
Awan selalu menjadi payung
Ketika hujan dan panas
Suri tauladannya
Yang mulia
Menyebabkan sebagian kefir
Luluh dan masuk islam

                                               

Amanat


Amanat
Kamar tidur yang sederhana
Menjadi saksi bisu
Terbaringnya tubuh ku
Yang begitu lemas
Terdengar panggilan
Yang mengharuskan ku
Berbagi ilmu
Di Nurul Walidain
Rasanya tubuh ini susah
Untuk berdiri tegak
tapi ku teringat akan wasiat
dari kakekku yang telah tiada
karena itu sebuah amanat
bergegas ku bersiap
ke tempat indah
dan ku bertemu malaikat2 kecil
Tapi semua itu terbalas
Dengan  senyuman
Melihat mereka gembira
Riang belajar bersama ku
Bahagia tiada tara
Seupama,, ehm
Melihat permadani
Di taman surga
                                               
                                               
                                               
                                               

Curahkan Isi Hati


Curahkan isi hati
Semilir angin
Menusuk relung jiwa
Hembusan udara
Terasa sesak
Suhu tubuh ku panas
Bagaikan api yang membara
Membakar raga
Yang tiada tara
Indra pengecapku
Berkata pahit
Untuk setiap jenis gizi
Yang masuk  melalui tenggorokan
Saluran pernafasan
Tersendat-sendat
Bagaikan pasir
Yang terjebak di dalam lubang kecil
Indra penglihat
Menyaksikan suatu benda besar
Yang menari-nari
Lalu jatuh menimpa diriku
Tenggorokan ku gersang
Setandus padang pasir
Yang tanahnya pecah
Seperti tertimpa gempa
Berbaringpun merasa tersiksa
Perlahan ku ambil teman sejati
Lalu ku curahkan isi hati
Dimalam yang begitu sendu

                                                

Sinar Yang Cerah


Sinar Yang Cerah
½ hari ini, cerah
Walaupun gerah kurasa
Genting sekolah berkilau
Seperti bulan yang berkelip
Tumbuhan yang terkena hujan
Disaat 99% orang sibuk beraktifitas
Berubah jadi kering
Secepat burok
Meskipun panas
Semilir angin tetap kurasa
Hatipun menjadi sejuk
Karena berada di rumah MU
Semangat dalam menggapai cita
Harusnya seperti
Sinar yang cerah
Seperti saat ini
Walaupun rintangan
Terkadang datang
Tak patah semangat
Karena gila akan rasa ingin tahu
Langah tetap kuteruskan
Tak peduli kegagalan
Ribuan kali menghampiri
Ku kan tetap mencoba
Jika niat baik telah ada
Maka Allah akan memudahkan
Usaha, doa dan tawakal
Merupakan kunci sukses





Ucapan Semata


Ucapan semata
Kemerdekaan,,,,,,,,,,,,,,
Sebuah anugrah
Yang menusuk qalbu
Menjerit mutiara bahagia
Tetapi malang
Hal itu terasa hampa
Bagai buaian semata
Melihat negri  sengsara
Hidup tidak adil
Seakan banjir darah
sang hijau berbicara
di dalam semua aspek
hukum begitu tumpul
bagi penjahat intelektual
keadilan begitu tajam
bagi golongan jelata



Senin, 29 Oktober 2012

Ketulusan


Ketulusan
Peluh kesah kau abaikan
Demi butiran mutiara
Tekad mu sekuat baja
Yang tak pernah luntur
Cintamu sepanjang sungai nil
Kasih sayang mu sebesar bumi
Pengorbanan mu sebanyak pasir di tepi laut
Dan Ketulusan mu selembut kain sutra
Senyuman selalu terpancar
Seindah rembulan dikala gelap
Seterang matahari dikala kemarau
serta seputih awan dikala sumringah
buah hati segalanya bagi mu
kaulah motivator bagiku
sehingga diri ini tetap tegak
setinggi atap bumi
ketika ku mengalami kegagalan
kau selalu bilang
kesuksesan mu masih terselip
diantara kegagalan mu
petuah yang terlontar
menyadarkan ku
untuk bangun dari keterpurukan
dan menopang dunia cemerlang






Semak-semak


Semak-semak
Ku goreskan tinta
Diatas sucinya lembaran kertas
Ku curakan rapuhnya langkah
Yang tak kuasa ku tahan
Detik, menit, maupun jam
Ku jalani dengan tangisan
Dan rasa takut yang mencekam
Ketika percekcokan itu terjadi
Istana ku sempat hancur
Mereka tak bersama
Dia pergi ke marganya
Dan hatiku semakin hancur
beban hidupku sulit
menerpa rangkaian masalah
bernafaspun tak bergairah
hati pun terasa hampa
semak-semak lah penyebabnya
yang hadir diantara indahnya bunga
dan secara perlahan memberikan virus
lalu mengacaukan kebahagiaan

Hujan Darah


Hujan Darah
Suara tembakan pistol
Mungkin tidak asing lagi
Bom meledak
Sering terjadi
Suara tangisan dan jeritan
Tak henti2’x terdengar
Indonesia gempar
Oleh pembantai putih
Mereka tak punya nurani
Segala cara di lakukan
Demi menguasai dunia hijau
Yang kaya dengan SDA
Bandung pun dikorbankan
Di bakar dan terjadi hujan darah
Pahlawan-pahlawan pun
Berguguran di medan perang
Sungguh ironis sekali
Banyak nyawa terenggut
Tapi mengapa?
Disaat negara sedikit aman
Pemimpin tidak dapat menjaga
Malah terjadi pembantaian
Dengan kerabat sendiri
Sungguh malangnya negri ini
Bulan pun mendung
Matahari tanpa cahaya
Dan bintang pun gelap
Melihat negeri indonesia



Kau Peri Hatiku


Kau Peri Hatiku
Perjuangan mu tiada tara
Hidup dan mati kau pertaruhkan
9 bulan aq berada dalam rahim mu
Dan selama itu juga kau menanggung beban
Kau membiarkan 6 urat mu terputus
Hanya untuk melihat malaikat mu
Hadir menjalani kehidupan
Bunda kau adalah peri hati ku
Yang selalu ada untuk ku
Ku kan selalu mencintai mu
Dan selalu berbakti kepada mu
Dalam setiap tahajud ku berdoa
semoga setelah dunia ini fana
kau dan aq dapat dipertemukan
di hijaunya surga sang khalik
Amin ya Rob


Bangkit


Bangkit
Tingginya pohon
Daunnya yang rindang
Diameter batang yang besar
Serta beribu buah
Ini mengisyaratkan
Kehidupan ku
bagai 100 ton butiran beras
jatuh menimpa ku
haruskah ku teteskan hujan
untuk hal tersebut
haruskah ku lemah
tak berdaya melaluinya
walaupun ku berikhtiar
terkadang tak sesuai
kegagalan menimpa
diriku terpuruk
rasanya pikiran melayang
terbang bersama semilir angin
tersesat jauh
mengikuti arah
logika ku terdampar
dalam sebuah negeri
yang tak ku kenal
tapi ku tetap beradabtasi
mungkin ini asing
bagi otak ku
tapi apa daya
ini pilihan masa depan
rintangan menerpa
kegagalan mungkin sahabat ku
rasa kecewa pasti ada
tangisan slalu menyertai
ku renungkan semuanya
ternyata ku harus berkaca
di luar sana
banyak yang gagal
tapi mereka bangkit
bagaikan api yang tak kan padam
terus menghangati
dalam setiap langkah
akhirnya ku sadar
selalu mencoba
tak putus asa
harus jadi kekasih ku
                                               
                                               

                                               
                                               

Minggu, 28 Oktober 2012

Membisu dalam Kebimbangan


Membisu dalam kebimbangan
Langkah seribu ku terhenti
Di persimpangan jalan
Tubuh pun terasa kaku
Tak bisa berbuat
Ingin rasanya ku buang
Nasehat dari peri jahat
Yang selalu membisikan
Kata-kata yang aneh
Hati kecil ku bergelut ria
bagai bawang merah dan putih
mulut pun membisu
dalam kebimbangan
marga serta hal lainnya
bercampur aduk
membentuk sebuah simbol
tanda tanya besar
saat itu,,,,
pikiran ku buntu
sempat terfikir
berbuat hal konyol
3 jam lamanya
Ku merenung
Mengambil titik temu
Yang harus ku ketuk
Ya rabb, tuntunlah hamba
Semoga keputusan ini
Adalah jalan terang
Menuju keridoan-MU
Masalah mengajarkan ku
Bersikap sabar
Berfikir rasional
dan menahan gejolak amarah
kini ku mengerti, ya rab
semua cobaan yang bertubi-tubi
kau berikan pada ku
karena kau sayang pada hamba.





Hikmah Kegagalan

Hikmah kegagalan
Duri kehidupan begitu tajam
Mengubrak abrik relung jiwa
Raga terasa hampa
Seperti bakal cikal jamur
Yang pergi jauh
Tertiup hembusan angin
Haruskah ku rubuh
Ketika daun jatuh?
Oh no
Ku harus tetap horizontal
Setinggi aras sang khalik
Kini rapuh hilang
Kuat pun datang
Dalam menjalani skenario
Sebagai aktris di alam fana
Semisal para ciptaan mu